Mar
13
Tuli, Bahasa Isyarat, dan Identitas Sosial

Kebanyakan orang memang memahami tunarungu adalah sebutan bagi penyandang disabilitas yang tidak dapat atau sulit dalam mendengar, baik secara ringan maupun total. Kebanyakan menganggap tunarungu adalah sebutan yang lebih halus dibanding dengan tuli. Ya, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya salah, namun dapat dikatakan salah jika mengatakan bahwa tunarungu sama dengan tuli. Bagaimana asl katatunarugu sendiri ? perlu anda ketahui, Kata tunarungu berasal dari dua kata berbeda, yakni tuna dan rungu. Tunarungu sendiri berdasarkan ungkapan yang tertulis pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)yaitu memiliki arti rusak atau luka, sedangkan rungu, berarti pendengaran maka dari penjelasan tersebut secara bahasa kata tunarungu dapat diartikan kerusakan pada indera pendengaran. tunarungu tersebut dalam perspektif medis merupakan sebuah kelainan atau kerusakan pada indera pendengaran. Kerusakan maupun ketidakmampuan mendengar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor fisikal, seperti sakit, kecelakaan, bertambahnya umur, kelainan syaraf, dan hal-hal yang erat kaitannya dengan masalah fisik pada indera pendengar. Jadi, dapat dikatakan bahwa kata “tunarungu” merupakan sebuah diagnosa medikal yang mendiagnosis kerusakan pada indera pendengaran.

Lain dengan tunarungu, yang bermaksud kerusakan, lain pula dengan tuli yang lebih dalam lagi maknanya. Tuli merupakan sebuah identitas sosial tersendiri bagi mereka yang menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Penggunaan kata tuli tersebut bahkan tidak sekedar digelarkan pada penyandang disabilitas indera pendengaran saja, melainkan bagi siapapun yang memahami dan mengerti penggunaan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat yang dipakai di komunitas tuli ada dua jenis, yaitu yang pertama adalah SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan yang kedua adalah BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Dalam sejarahnya, SIBI dibuat oleh pemerintah untuk memperlancar komunikasi sesama tuli tanpa melibatkan tuli dalam pembuatan sistem bahasanya. SIBI dibuat pada tahun 1990 kemudian baru disebar luaskan tahun 2001. Sedangkan BISINDO merupakan bahasa isyarat yang secara alami tumbuh berkembang di komunitas tuli, untuk mereka mempermudah dalam komunikasi keseharian. Sudah ada sejak 1960, namun kata BISINDO baru muncul pada tahun 2012. Menurut penuturan sorang ahli Arief Wicaksono ia mengatakan bahwa dengan menyebut mereka tuli berarti menganggap mereka adalah bagian dari orang-orang normal yang berkemampuan berbeda, komunikasi yang tuli lakukan adalah dengan menggunakan bahasa isyarat. Lain halnya dengan menyebut penyandang tuli sebagai tunarungu, hal tersebut malah membuat para tuli merasa didiskriminasi, karena merujuk kepada sebuah kerusakan. Menariknya, para tuli juga menganggap tidak normal ketika orang yang bisa mendengar tidak memahami bahasa isyarat.